Kamis, 22 Desember 2016

Kabari bukan tuk dihindari

Kabari bukan tuk dihindari
Oleh : Giri Miharja

Bayangan semu itu hadir kembali dalam kabut-kabut tebal
Senza itu melukiskan kembali perdebatan siang dan malam
Mewarnai upuk barat yang mulai memadam.

Cita angan terbesar akademisi capaian gelar profesor diatas nama bayi
Cita tertinggi politisi menduduki kursi penentu kebijakan negeri
Hal konyol cita tinggiku sayang... Meraih hati orang yang kucintai

Kian lama kabut itu terus menebal
Menghalangi bayan-bayang yang kan datang
Hal mistis sebuah peri bersayap dua bersenjata tongkat
Mulai muncul di antara kepercayaan dan keraguan
Ini adalah sebuah keyakinan tongkat itu akan menghapus segala kabut belenggu

Mulai datang dari negeri yang tak jauh berbeda, mengayunkan tongkat peri
Mengabulkan segala cita konyol yang begitu tinggi.

Hanya tolehan datar yang tersimpul dari wajahnya
Memaku dan kaku, membatu hingga beku
Tak sepatah katap syairpun berbisik ke telingaku
Hanya gemuruh sorakan syair-syair fanatik mendengingkanku

Sepintas gedung itu
Sudut-sudut mulai menumpul
cahayanya mulai meredup
warna warn cat mulai memudar

ya seperti simbol itu
pesan pesan ringan terendapkan, terkisis di bagian paling dasar
lalu muncul kepermukaan dan terseret ombak ke tengah lautan
terombang ambing tanpa arah hingga butuh satu abad untuk tersampaikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar