Kabari bukan tuk dihindari
Oleh : Giri Miharja
Bayangan semu itu hadir kembali dalam kabut-kabut
tebal
Senza itu melukiskan kembali perdebatan siang dan
malam
Mewarnai upuk barat yang mulai memadam.
Cita angan terbesar akademisi capaian gelar profesor
diatas nama bayi
Cita tertinggi politisi menduduki kursi penentu
kebijakan negeri
Hal konyol cita tinggiku sayang... Meraih hati orang
yang kucintai
Kian lama kabut itu terus menebal
Menghalangi bayan-bayang yang kan datang
Hal mistis sebuah peri bersayap dua bersenjata
tongkat
Mulai muncul di antara kepercayaan dan keraguan
Ini adalah sebuah keyakinan tongkat itu akan
menghapus segala kabut belenggu
Mulai datang dari negeri yang tak jauh berbeda,
mengayunkan tongkat peri
Mengabulkan segala cita konyol yang begitu tinggi.
Hanya tolehan datar yang tersimpul dari wajahnya
Memaku dan kaku, membatu hingga beku
Tak sepatah katap syairpun berbisik ke telingaku
Hanya gemuruh sorakan syair-syair fanatik
mendengingkanku
Sepintas gedung itu
Sudut-sudut mulai menumpul
cahayanya mulai meredup
warna warn cat mulai memudar
ya seperti simbol itu
pesan pesan ringan terendapkan, terkisis di bagian
paling dasar
lalu muncul kepermukaan dan terseret ombak ke tengah
lautan
terombang ambing tanpa arah hingga butuh satu abad untuk
tersampaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar