Selasa, 20 Desember 2016

ADA APA DENGAN MAHASISWA MANAJEMEN HUTAN SEHINGGA SERINGKALI MEMANFAATKAN PESONA BALAIRUNG RIMBAWAN?


Balairung merupakan sebuah arti guyonan dalam bahasa sunda yaitu bala artinya banyak/berserakan sedangkan irung artinya adalah hidung (dalam tulisan ini dibatasi hidung manusia, meskipun dalam kenyataannya banyak juga yang terlihat bukan hidung – hidung manusia). Rimbawan adalah sebutan bagi para akademisi, profesi dan yang lainnya yang berkecimpung pada bidang kehutanan. Jadi pembaca bebas menafsirkan sendiri arti luas dari Balairung Rimbawan.
            Balairung Rimbawan terletak di fakultas Kehutanan IPB sebelah barat Gedung Utama (GU) Fahutan dan Jalan Uin. Sebelah selatan Fakultas Teknologi pertanian dan sebelah utara bahkan berimpitan dengan gedung lab perencanaan Manajemen Hutan. Sebuah tempat favorit tempat kumpul mahasiswa fahutan ini kala di terangi dengan barisan berjajar rapi 22 neon kecil dan 4 neon besar, namun barisan penerangan ini hanyalah kenangan rumah usang bagi neon, hanya 3 neon yang masih setia menerangi balairung fahutan saat ini. Hening sepi Balairung Rimbawan kian susah dijumpai baik pagi, siang, petang maupun malam. Dinding tembok bercat putih mulai memudar seiring umurnya yang telah menginjak 18  tahun pada 5 september 2016 silam. Hiasan dan tata letak Balairung Rimbawan banyak mengandung makna yang tersirat. Tiang tembok bentuk persegi berjajar tegak menopang beban atap tang terbuat sebagian besar dari kayu. Beban topangan kian begitu besar sehingga dibutuhkan 20 tiang untuk menyangga beban tersebut. Pagar disusun rapi sedemikian rupa sehingga menyerupai tanda silang dalam kotak pada bagian selatan, barat dan timur Balairung Rimbawan. Susunan kayu yang artistik pada bagian atap menjadikan pesona Balairung Rimbawan semakin khas dengan kehutanan. Alas Balairung Rimbaawan disusun dengan keramik dominan berwarna kebanggaan fakultas kehutanan yaitu warna abu.
Wifi selalu menepati janjinya menebarkan pesona Balairung Rimbawan. Kecepatan 15 MBPS nama Balairung Rimbawan kian menjadi sorotan semua orang khusunya mahasiswa kehutanan IPB. Banyak orang berbondong-bondong ke Balairung untuk kumpul, rapat, kerja kelompok, ngenet, bahkan hanya untuk singgah saja. Nama Balairung Rimbawan tidak asing lagi bagi mahasiswa kehutanan karena merupakan salah satu tempat favorit untuk dikunjungi.
Delapan belas bulan terakhir dinamisnya Balairung Rimbawan dinahkodai oleh mahasiswa departemen Manajemen Hutan. Penulis berpendapat “ini adalah bentuk refleksi terhambatnya mobilitas bertukar fikir mahasiswa Manajemen Hutan. Sindiran yang tak mempunyai power ini berharap menyentuh pejabat terkait untuk memberikan kebijaksanaan nyata terhadap keluhan yang selama delapan belas tahun menjadi belenggu mahasiswa Manajemen Hutan.” Pendapat penulis didasari atas apa yang telah dirasakan sebagian besar mahasiswa Manajemen Hutan termasuk penulis sendiri. Keluhan terbesar yang dirasakan terbatasnya fasilitas yang cukup dan pas untuk bertukar fikir baik ranah akademis maupun non akademis. Penulis sering melihat dan merasakan begitu sulitnya mencari tempat untuk kumpul dan rapat yang beranggotakan lebih dari lima belas orang sehingga Balairung Rimbawan lah yang menjadi pilihan dari satu pilihan yang ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar