Balairung merupakan sebuah arti guyonan dalam bahasa
sunda yaitu bala artinya banyak/berserakan sedangkan irung artinya adalah
hidung (dalam tulisan ini dibatasi hidung manusia, meskipun dalam kenyataannya
banyak juga yang terlihat bukan hidung – hidung manusia). Rimbawan adalah
sebutan bagi para akademisi, profesi dan yang lainnya yang berkecimpung pada
bidang kehutanan. Jadi pembaca bebas menafsirkan sendiri arti luas dari
Balairung Rimbawan.
Balairung Rimbawan terletak di
fakultas Kehutanan IPB sebelah barat Gedung Utama (GU) Fahutan dan Jalan Uin.
Sebelah selatan Fakultas Teknologi pertanian dan sebelah utara bahkan
berimpitan dengan gedung lab perencanaan Manajemen Hutan. Sebuah tempat favorit
tempat kumpul mahasiswa fahutan ini kala di terangi dengan barisan berjajar
rapi 22 neon kecil dan 4 neon besar, namun barisan penerangan ini hanyalah
kenangan rumah usang bagi neon, hanya 3 neon yang masih setia menerangi
balairung fahutan saat ini. Hening sepi Balairung Rimbawan kian susah dijumpai
baik pagi, siang, petang maupun malam. Dinding tembok bercat putih mulai
memudar seiring umurnya yang telah menginjak 18
tahun pada 5 september 2016 silam. Hiasan dan tata letak Balairung
Rimbawan banyak mengandung makna yang tersirat. Tiang tembok bentuk persegi
berjajar tegak menopang beban atap tang terbuat sebagian besar dari kayu. Beban
topangan kian begitu besar sehingga dibutuhkan 20 tiang untuk menyangga beban
tersebut. Pagar disusun rapi sedemikian rupa sehingga menyerupai tanda silang
dalam kotak pada bagian selatan, barat dan timur Balairung Rimbawan. Susunan
kayu yang artistik pada bagian atap menjadikan pesona Balairung Rimbawan
semakin khas dengan kehutanan. Alas Balairung Rimbaawan disusun dengan keramik
dominan berwarna kebanggaan fakultas kehutanan yaitu warna abu.
Wifi selalu menepati janjinya menebarkan pesona
Balairung Rimbawan. Kecepatan 15 MBPS nama Balairung Rimbawan kian menjadi
sorotan semua orang khusunya mahasiswa kehutanan IPB. Banyak orang
berbondong-bondong ke Balairung untuk kumpul, rapat, kerja kelompok, ngenet,
bahkan hanya untuk singgah saja. Nama Balairung Rimbawan tidak asing lagi bagi
mahasiswa kehutanan karena merupakan salah satu tempat favorit untuk
dikunjungi.
Delapan belas bulan terakhir dinamisnya Balairung
Rimbawan dinahkodai oleh mahasiswa departemen Manajemen Hutan. Penulis berpendapat
“ini adalah bentuk refleksi terhambatnya mobilitas bertukar fikir mahasiswa
Manajemen Hutan. Sindiran yang tak mempunyai power ini berharap menyentuh
pejabat terkait untuk memberikan kebijaksanaan nyata terhadap keluhan yang
selama delapan belas tahun menjadi belenggu mahasiswa Manajemen Hutan.” Pendapat
penulis didasari atas apa yang telah dirasakan sebagian besar mahasiswa
Manajemen Hutan termasuk penulis sendiri. Keluhan terbesar yang dirasakan terbatasnya
fasilitas yang cukup dan pas untuk bertukar fikir baik ranah akademis maupun
non akademis. Penulis sering melihat dan merasakan begitu sulitnya mencari tempat
untuk kumpul dan rapat yang beranggotakan lebih dari lima belas orang sehingga
Balairung Rimbawan lah yang menjadi pilihan dari satu pilihan yang ada.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar