BAB 1. ISI PESAN ITU
|
A
|
wal
dari sebuah makna hikayat yang terlalu di agungkan, sehingga berharap untuk
jadi kenyataan. Cerita yang begitu komplek dan dinamis menghiasi taman-taman
kehidupan hingga akhir yang romantis menjadi sebuah tujuan. Malam itu dering
handphone kanggir berbunyi.
“ini
sms maksudnya apa?” tanya kanggir pada wendi teman kostannya. Dengan muka heran
kanggir memperlihatkan isi pesan singkat itu.
Wendi begitu bingung melihat isi pesat singkat
itu, “kamu pernah menghubungi nomor ini sebelumnya?” tanya wendi dengan penuh
khawatir.
“tidak,
itu nomor baru dan tanpa identitas siapa yang kirim pesan itu” jawab kanggir
dengan mimik kebingungan.
“Tidak
mungkin ada asap jika tidak ada api yang menyala, coba ingat kembali apakah
kamu pernah menghubungi nomor ini?” wendi menekankan pertanyaan itu dengan
menatap wajah kanggir, memberikan katalis pada ingatan kanggir.
Lama
terdiam hening sambil mengerutkan alisnya, kanggir mencoba mengingat nomor itu.
Hampir lima menit suasana hening tanpa ada suara. Hembusan angin malam
menjalarkan fikiran melayang tanpa arah. “Oh iya mungkin orang itu yang
mengirim pesan padaku” sambil mengangguk-anggukan kepalanya kanggir mencoba
menduga siapa orang yang mengirim pesan singkat itu.
“kamu
tau orangnya siapa yang kirim pesan ini?” tanya wendi dengan sambil tetap
menatap kanggir.
Kanggir
hanya menganggukan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya. “apa maksudnya pesan
ini?” pertanyaan yang sulit untuk dipahami, sambil berbaring pertanyaan serupa
terus membayangi fikirannya. Tak lama kemudian kanggir menghampiri kembali
wendi dikamarnya.
“wen
apakah langsung kutemuin saja orangnya
lalu kuhajar?” tanya kanggir dengan mimik muka yang begitu kesal.
“emang
kamu yakin sudah yakin dengan maksudnya itu?” dengan nada pelan wendi mencoba
menenangkan suasana. “dan kamu yakin dia orangnya?”.
“ya aku
yakin dengan keputusanku” dengan nada tegas sambil memakai jaket kulit hitamnya.
Tak lama
ucapan kanggir, terdengar suara gemuruh speda motor.
“Assalamualaikum...”
suara lantang itu terdengar di depan pintu. “Mau kemana kang rapi amat” ucap
salah satu teman dari beberapa temannya yang baru datang.
“ada
urusan bentar” jawab kanggir dengan nada ketus.
“wen
mau kemana dia?” dengan wajah penasaran.
“Dia
mau nyamperin orang yang kirim pesan ini” sambil memperlihatkan isi pesan singkat itu.
Dzaki salah
satu temennya kanggir mengerutkan jidatnya mencoba menafsirkan isi pesan itu. “mending
kamu tenang dulu, belum tentu apa yang kamu tafsirkan sepenuhnya benar” dzaki
mencoba memberi saran. Teman yang lainpun memberi saran yang tak jauh berdeda
dengan sarannya dzaki.
Kanggir
hanya terdiam kaku setelah mendengar saran dari teman-temannya.
“besok
aja kang ini udah terlalu malam, besok kalau perlu aku ikut dampingin lu
samperin orang itu” salah satu temennya memberi saran kembali.
Waktu itu
menujukan pukul 23.35 namun suasana di tempat tinggal kanggir dan
teman-temannya masih begitu ramai.
“yaudah
kita ngobrol aja di teras sambil ngopi biar lebih santai, kita bahas masalah
ini dan kita cari solusinya” ucap wendi dengan nada khas blitarnya lalu sambil
menyalakan lampu teras.
Kanggir
tak mengucapkan satu katapun atas saran wendi, namun langsung berjalan ke teras
depan, dan diikuti oleh teman-temannya yang lain. Ngobrol ngalor ngidul dan
teman-teman kanggir mencoba memberi saran-saran kepada kanggir.
“Gak kerasa
udah jam 2 aja nih, pantesan udah mulai lengket nih mata” komentar dzaki sambil
menguap pertanda dia udah mulai ngantuk.
“yaudah
sekarang gini aja, kamu besok samperin aja dia, ajak ngomong baik-baik dulu dan
sebaiknya kamu bikin janji terlebih dahulu” ucap wendi yang merupakan kalimat
itu rangkuman dari saran-saran temannya yang lain.

