Sabtu, 24 Desember 2016

BAB 1. ISI PESAN ITU

BAB 1. ISI PESAN ITU
A
wal dari sebuah makna hikayat yang terlalu di agungkan, sehingga berharap untuk jadi kenyataan. Cerita yang begitu komplek dan dinamis menghiasi taman-taman kehidupan hingga akhir yang romantis menjadi sebuah tujuan. Malam itu dering handphone kanggir berbunyi.
“ini sms maksudnya apa?” tanya kanggir pada wendi teman kostannya. Dengan muka heran kanggir memperlihatkan isi pesan singkat itu.
 Wendi begitu bingung melihat isi pesat singkat itu, “kamu pernah menghubungi nomor ini sebelumnya?” tanya wendi dengan penuh khawatir.
“tidak, itu nomor baru dan tanpa identitas siapa yang kirim pesan itu” jawab kanggir dengan mimik kebingungan.
“Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api yang menyala, coba ingat kembali apakah kamu pernah menghubungi nomor ini?” wendi menekankan pertanyaan itu dengan menatap wajah kanggir, memberikan katalis pada ingatan kanggir.
Lama terdiam hening sambil mengerutkan alisnya, kanggir mencoba mengingat nomor itu. Hampir lima menit suasana hening tanpa ada suara. Hembusan angin malam menjalarkan fikiran melayang tanpa arah. “Oh iya mungkin orang itu yang mengirim pesan padaku” sambil mengangguk-anggukan kepalanya kanggir mencoba menduga siapa orang yang mengirim pesan singkat itu.
“kamu tau orangnya siapa yang kirim pesan ini?” tanya wendi dengan sambil tetap menatap kanggir.
Kanggir hanya menganggukan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya. “apa maksudnya pesan ini?” pertanyaan yang sulit untuk dipahami, sambil berbaring pertanyaan serupa terus membayangi fikirannya. Tak lama kemudian kanggir menghampiri kembali wendi dikamarnya.
“wen apakah langsung  kutemuin saja orangnya lalu kuhajar?” tanya kanggir dengan mimik muka yang begitu kesal.
“emang kamu yakin sudah yakin dengan maksudnya itu?” dengan nada pelan wendi mencoba menenangkan suasana. “dan kamu yakin dia orangnya?”.
“ya aku yakin dengan keputusanku” dengan nada tegas sambil memakai jaket kulit hitamnya.
Tak lama ucapan kanggir, terdengar suara gemuruh speda motor.
“Assalamualaikum...” suara lantang itu terdengar di depan pintu. “Mau kemana kang rapi amat” ucap salah satu teman dari beberapa temannya yang baru datang.
“ada urusan bentar” jawab kanggir dengan nada ketus.
“wen mau kemana dia?” dengan wajah penasaran.
“Dia mau nyamperin orang yang kirim pesan ini” sambil  memperlihatkan isi pesan singkat itu.
Dzaki salah satu temennya kanggir mengerutkan jidatnya mencoba menafsirkan isi pesan itu. “mending kamu tenang dulu, belum tentu apa yang kamu tafsirkan sepenuhnya benar” dzaki mencoba memberi saran. Teman yang lainpun memberi saran yang tak jauh berdeda dengan sarannya dzaki.
Kanggir hanya terdiam kaku setelah mendengar saran dari teman-temannya.
“besok aja kang ini udah terlalu malam, besok kalau perlu aku ikut dampingin lu samperin orang itu” salah satu temennya memberi saran kembali.
Waktu itu menujukan pukul 23.35 namun suasana di tempat tinggal kanggir dan teman-temannya masih begitu ramai.
“yaudah kita ngobrol aja di teras sambil ngopi biar lebih santai, kita bahas masalah ini dan kita cari solusinya” ucap wendi dengan nada khas blitarnya lalu sambil menyalakan lampu teras.
Kanggir tak mengucapkan satu katapun atas saran wendi, namun langsung berjalan ke teras depan, dan diikuti oleh teman-temannya yang lain. Ngobrol ngalor ngidul dan teman-teman kanggir mencoba memberi saran-saran kepada kanggir.
“Gak kerasa udah jam 2 aja nih, pantesan udah mulai lengket nih mata” komentar dzaki sambil menguap pertanda dia udah mulai ngantuk.

“yaudah sekarang gini aja, kamu besok samperin aja dia, ajak ngomong baik-baik dulu dan sebaiknya kamu bikin janji terlebih dahulu” ucap wendi yang merupakan kalimat itu rangkuman dari saran-saran temannya yang lain.

Kamis, 22 Desember 2016

Kabari bukan tuk dihindari

Kabari bukan tuk dihindari
Oleh : Giri Miharja

Bayangan semu itu hadir kembali dalam kabut-kabut tebal
Senza itu melukiskan kembali perdebatan siang dan malam
Mewarnai upuk barat yang mulai memadam.

Cita angan terbesar akademisi capaian gelar profesor diatas nama bayi
Cita tertinggi politisi menduduki kursi penentu kebijakan negeri
Hal konyol cita tinggiku sayang... Meraih hati orang yang kucintai

Kian lama kabut itu terus menebal
Menghalangi bayan-bayang yang kan datang
Hal mistis sebuah peri bersayap dua bersenjata tongkat
Mulai muncul di antara kepercayaan dan keraguan
Ini adalah sebuah keyakinan tongkat itu akan menghapus segala kabut belenggu

Mulai datang dari negeri yang tak jauh berbeda, mengayunkan tongkat peri
Mengabulkan segala cita konyol yang begitu tinggi.

Hanya tolehan datar yang tersimpul dari wajahnya
Memaku dan kaku, membatu hingga beku
Tak sepatah katap syairpun berbisik ke telingaku
Hanya gemuruh sorakan syair-syair fanatik mendengingkanku

Sepintas gedung itu
Sudut-sudut mulai menumpul
cahayanya mulai meredup
warna warn cat mulai memudar

ya seperti simbol itu
pesan pesan ringan terendapkan, terkisis di bagian paling dasar
lalu muncul kepermukaan dan terseret ombak ke tengah lautan
terombang ambing tanpa arah hingga butuh satu abad untuk tersampaikan.


Selasa, 20 Desember 2016

ADA APA DENGAN MAHASISWA MANAJEMEN HUTAN SEHINGGA SERINGKALI MEMANFAATKAN PESONA BALAIRUNG RIMBAWAN?


Balairung merupakan sebuah arti guyonan dalam bahasa sunda yaitu bala artinya banyak/berserakan sedangkan irung artinya adalah hidung (dalam tulisan ini dibatasi hidung manusia, meskipun dalam kenyataannya banyak juga yang terlihat bukan hidung – hidung manusia). Rimbawan adalah sebutan bagi para akademisi, profesi dan yang lainnya yang berkecimpung pada bidang kehutanan. Jadi pembaca bebas menafsirkan sendiri arti luas dari Balairung Rimbawan.
            Balairung Rimbawan terletak di fakultas Kehutanan IPB sebelah barat Gedung Utama (GU) Fahutan dan Jalan Uin. Sebelah selatan Fakultas Teknologi pertanian dan sebelah utara bahkan berimpitan dengan gedung lab perencanaan Manajemen Hutan. Sebuah tempat favorit tempat kumpul mahasiswa fahutan ini kala di terangi dengan barisan berjajar rapi 22 neon kecil dan 4 neon besar, namun barisan penerangan ini hanyalah kenangan rumah usang bagi neon, hanya 3 neon yang masih setia menerangi balairung fahutan saat ini. Hening sepi Balairung Rimbawan kian susah dijumpai baik pagi, siang, petang maupun malam. Dinding tembok bercat putih mulai memudar seiring umurnya yang telah menginjak 18  tahun pada 5 september 2016 silam. Hiasan dan tata letak Balairung Rimbawan banyak mengandung makna yang tersirat. Tiang tembok bentuk persegi berjajar tegak menopang beban atap tang terbuat sebagian besar dari kayu. Beban topangan kian begitu besar sehingga dibutuhkan 20 tiang untuk menyangga beban tersebut. Pagar disusun rapi sedemikian rupa sehingga menyerupai tanda silang dalam kotak pada bagian selatan, barat dan timur Balairung Rimbawan. Susunan kayu yang artistik pada bagian atap menjadikan pesona Balairung Rimbawan semakin khas dengan kehutanan. Alas Balairung Rimbaawan disusun dengan keramik dominan berwarna kebanggaan fakultas kehutanan yaitu warna abu.
Wifi selalu menepati janjinya menebarkan pesona Balairung Rimbawan. Kecepatan 15 MBPS nama Balairung Rimbawan kian menjadi sorotan semua orang khusunya mahasiswa kehutanan IPB. Banyak orang berbondong-bondong ke Balairung untuk kumpul, rapat, kerja kelompok, ngenet, bahkan hanya untuk singgah saja. Nama Balairung Rimbawan tidak asing lagi bagi mahasiswa kehutanan karena merupakan salah satu tempat favorit untuk dikunjungi.
Delapan belas bulan terakhir dinamisnya Balairung Rimbawan dinahkodai oleh mahasiswa departemen Manajemen Hutan. Penulis berpendapat “ini adalah bentuk refleksi terhambatnya mobilitas bertukar fikir mahasiswa Manajemen Hutan. Sindiran yang tak mempunyai power ini berharap menyentuh pejabat terkait untuk memberikan kebijaksanaan nyata terhadap keluhan yang selama delapan belas tahun menjadi belenggu mahasiswa Manajemen Hutan.” Pendapat penulis didasari atas apa yang telah dirasakan sebagian besar mahasiswa Manajemen Hutan termasuk penulis sendiri. Keluhan terbesar yang dirasakan terbatasnya fasilitas yang cukup dan pas untuk bertukar fikir baik ranah akademis maupun non akademis. Penulis sering melihat dan merasakan begitu sulitnya mencari tempat untuk kumpul dan rapat yang beranggotakan lebih dari lima belas orang sehingga Balairung Rimbawan lah yang menjadi pilihan dari satu pilihan yang ada.